Nikel dan Bauksit Menanjak

Dikutip dari Bisnis Indonesia, 7 Agustus 2018

Berdasarkan data yang diterima Bisnis dan KESDM, volume ekspor kedua bijih mineral itu terus meningkat setiap semester. Kebijakan membuka keran ekspor bijih nikel kadar rendah dan bauksit telah dijalankan sejak awal 2017

Bambang Susigit, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral KESDM mengatakan sejak tahun 2017, rekomendasi untuk ekspor nikel sebesar 32,7 juta ton dan untuk bauksit rekomendasinya 17,13 juta ton. Sementara itu, realisasi ekspor bijih nikel pada semester I/2017 baru sebesar 403,201 ton. Namun pada akhir 2017, volume ekspor bijih nikel mencapai 4,63 juta ton. Sedangkan, realisasi ekspor bijih nikel pada semester I/2018 mencapai 8,14 juta ton. Meskipun terus meningkat sejak 2017, realisasi eskpor baru mencapai 25,22% dari total rekomendasi yang diberikan.

Begitu juga untuk komoditas bauksit, realisasi ekspor pada semester I/2017 baru sebesar 57.135 ton, Namun terjadi peningkatan ekspor di semester II/2017 yaitu 1,76 juta ton dan meningkat kembali di semester I/2018 yakni sebesar 3,13 juta ton atau 18,27 dari total rekomendasi yang diberikan pemerintah.

Realisasi eskpor kedua bijih tersebut relatif rendah karena sebagian perusahaan yang mendapatkan rekomendasi masih melakukan persiapan. Hal itu sejalan dengan progress pembangunan smelter yang belum signifikan untuk beberapa perusahaan.

Sebagian smelter yang progressnya masih rendah disebabkan karena baru mulai pembangunan saat pemerintah kembali membuka keran ekspor bijih nikel kadar rendah dan bauksit pada awal 2017. Berdasarkan catatan KESDM, hingga Mei 2018, dari 18 smelter nikel yang direkomendasi ekspor komoditas tsb, tercatat baru ada 6 smelter yang progress pembangunannya telah mencapai 100%. Sedangkan, progress pembangunan smelter lain masih bervariasi, bahkan masih ada dibawah 5%.

Begitu juga untuk progress pembangunan smelter yang mengolah bauksit menjadi alumina. Dari 7 smleter yang dibangun, baru dua smelter yang pembangunannya mencapai 100%, yakni milik PT Antam dan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery. Dari lima smelter bauksit yang masih dibangun, seluruh nya belum ada yang mencapai progress hingga 5%.

Perusahaan yang mendapatkan rekomendasi eskpor tersebut wajib mencapai minimal 90% dari target pembangunan fisik per periode evaluasi yakni 6 Bulan. Apabila tidak memenuhi ketentuan tsb, KESDM akan mencabut rekomendasi ekspor. Selain itu perusahaan akan dikenakan sanksi finansial berupa denda sebesar 20% dari penjualan bijih nikel dan bauksit yang telat direalisasikan.

Irwandy Arif, Ketua Indonesia Mining Institute mengatakan pemerintah perlu cermat melihat berapa banyak mineral mentah yang diekspor. Pasalnya, hal itu akan sangat berpengaruh pada harga dikemudian hari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *