LOGAM TANAH JARANG : Ada Potensi, Wilayah Tambang Dilelang

JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menawarkan wilayah pertambangan untuk komoditas mineral logam tanah jarang apabila berdasarkan eksplorasi awal terdapat potensi di dalamnya.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan bahwa hingga kini belum ada kegiatan eksplorasi yang fokus pada mineral logam tanah jarang. Pihaknya pun baru mulai menginventarisasi.

“Mestinya nanti akan ditawarkan kalau setelah dieksplorasi ternyata potensinya ada,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (9/2).

Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengatakan bahwa jenis komoditas tambang tersebut masih belum berkembang di Indonesia. Padahal, potensinya cukup tinggi, terutama di Kepulauan Bangka Belitung.

Dia menjelaskan bahwa logam tanah jarang biasanya menjadi mineral ikutan dalam penambangan emas dan timah, seperti kolumbit tantalit, zirkon, ilmenit, rutil, kuarsa, pirit, xenotim dan monasit. Bahkan, monasit mengandung torium yang cukup tinggi, yakni sekitar 1,2%—8,1%.

“Logam tanah jarang ini memiliki peranan yang sangat penting dalam kebutuhan industri masa depan seperti superkonduktor, laser, neomagnet, optik elektronik, aplikasi LED, mobil bertenaga listrik, dan keramik, termasuk untuk nuklir,” katanya kepada Bisnis.

Menurutnya, pemerintah harus segera memiliki basis data yang kuat terkait mineral logam tanah jarang tersebut.

Adapun, mineral logam tanah jarang tersebut akan diarahkan pemerintah sebagai cadangan strategis nasional. Apabila telah ditemukan cadangan terbukti dan berhasil ditambang, mineral logam tanah jarang tersebut tidak akan diekspor.

ATURAN KHUSUS

Bambang menjelaskan bahwa aturan khusus terkait dengan komoditas mineral logam tanah jarang akan dibuat setelah ada cadangan terbukti yang bisa ditambang.

Sejauh ini, katanya, memang belum ada aturan khusus terkait dengan mineral logam tanah jarang. Artinya, masih diatur secara umum seperti mineral lainnya.

“Belum ada karena belum benar-benar terbukti. Masih secara umum saja seperti mineral lain,” katanya.

Bambang menuturkan bahwa aturan khusus bisa saja dibuat setelah ada cadangan terbukti. Pasalnya, komoditas tersebut diarahkan sebagai bahan galian strategis yang nantinya tidak bisa diekspor. “Kalau nanti setelah eksplorasi ketemu ya, mungkin saja.”

Sebelumnya, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada beleid yang mengatur mineral tanah jarang secara khusus.

Dia menilai dengan data yang mencukupi, bisa jadi mineral tanah jarang akan memiliki peraturannya sendiri. “Kita data, kita eksplorasi. Kalau sekarang memang aturannya belum ada.”

Selain itu, Bambang menuturkan bahwa Kementerian ESDM akan menggandeng instansi pemerintah di bidang pertahanan dan keamanan untuk menginventarisasi potensi mineral logam tanah jarang di Indonesia.

“Kita inventarisasi dengan instansi-instansi terkait di bidang hankam karena ini strategis sekali,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso mengatakan bahwa jenis mineral tersebut belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Selain itu, belum ada data lengkap terkait dengan sebarannya di Indonesia.

“Pengusaha nasional dan investor asing pun masih bergantung pada mineral-mineral yang punya pasar jelas,” katanya kepada Bisnis.

Dia menjelaskan bahwa dari sisi geologi, Indonesia memiliki potensi mineral logam tanah jarang yang baik. Kondisi tersebut memungkinkan sebarannya berada di seluruh Indonesia.

Budi mengungkapkan bahwa di beberapa negara, komoditas tersebut masuk dalam klasifikasi komoditas bukan dagang biasa, sedangkan di Indonesia mineral jarang kemungkinan ikut terbuat bersama tailing atau mineral yang diekspor setengah jadi.

“Karena aturan pemanfaatan mineral ikutan sama rumitnya dengan pemanfaatan mineral utama,” tuturnya. (B)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *