Indonesia Mining Institute: Dukungan IPO Perusahaan Tambang Setengah-Setengah

Bareksa.com –  Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun lalu baru saja memberlakukan peraturan baru yang bertujuan mendukung perusahaan tambang belum berproduksi untuk mencari dana melalui penawaran saham perdana atau IPO (initial public offering). Namun, hingga saat ini belum ada emiten tambang baru yang melantai di bursa efek.

Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), Profesor Irwandy Arif mengatakan bahwa langkah yang diterapkan pemerintah dalam mendukung industri pertambangan masih setengah-setengah. Menurutnya, perusahaan tambang membutuhkan dana besar untuk lakukan eksplorasi, sementara dukungan pemodal untuk tahapan tersebut relatif kecil.

“Dana eksplorasi tambang di Indonesia hanya 1,5 persen dari total dana eksplorasi dunia,” katanya dalam seminar bertajuk Peluang dan Tantangan Perusahaan Tambang di Jakarta hari ini 26 Februari 2015.

Minimnya dana eksplorasi menyebabkan penurunan cadangan tambang yang ditemukan di Indonesia sehingga pada akhirnya mempengaruhi kemampuan produksi. Menurut data Kementerian ESDM, pertumbuhan produksi produk mineral dan batubara mulai negatif di tahun 2013.

Grafik Persentase Pertumbuhan Produksi Mineral & Batubara

Grafik Persentase Pertumbuhan Produksi Mineral & Batubara

Irwandy berpendapat bahwa pemerintah perlu memberikan perhatian agar perusahaan tambang bisa menemukan cadangan yang signifikan. Irwandy juga mengusulkan agar BEI dapat memfasilitasi perusahaan tambang yang berniat melakukan eksplorasi untuk mendapatkan modal.

Pada kesempatan yang sama, Hoesen Direktur Penilaian Perusahaan BEI menyatakan bahwa bursa sebagai regulator juga berniat untuk mendukung proses eksplorasi perusahaan tambang dengan mempermudah proses IPO.

“Kita berniat support eksplorasi, tapi mungkin (minat) di market yang berbeda karena kita juga mempertimbangkan resiko yang ditanggung investor,” katanya.

Hoesen menyatakan bahwa sampai saat ini Bursa masih melakukan kajian bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk mengakomodasi permodalan eksplorasi perusahaan tambang.

Hoesen menyebutkan beberapa kemungkinan diantaranya membentuk pasar khusus bagi perusahaan yang berniat melakukan eksplorasi. “Ini masih kita kaji apakah menempel dengan bursa atau kita bentuk pasar baru,” tambahnya.

Seperti diberitakan, pada tanggal 1 November 2014 lalu Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan aturan nomor I-A.1 tentang pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham yang diterbitkan oleh perusahaan di bidang pertambangan mineral dan batubara. Aturan tersebut memberikan kemudahan bagi perusahaan pertambangan yang sudah memiliki Ijin Usaha Pertambangan (IUP) tetapi belum memulai tahapan produksi dan penjualan untuk mendapatkan dana segar melalui IPO.

Perlu digarisbawahi bahwa aturan baru yang diberlakukan BEI memberi kelonggaran bagi perusahaan yang sudah melewati tahap eksplorasi atau sudah menemukan cadangan tambang. Namun, sejak aturan tersebut diterapkan, belum ada emiten baru yang melantai di bursa.

Hoesen mengatakan ada satu perusahaan tambang yang baru saja melakukan presentasi di hadapan bursa atau yang biasa disebut dengan mini expose sebelum dapat melakukan proses IPO. Perusahaan tambang emas dan tembaga tersebut bernama PT Merdeka Copper Gold yang terafiliasi dengan Grup Saratoga.

Selain itu, perusahaan tambang emas PT Archi Indonesia Tbk sudah melakukan penawaran saham sejak akhir tahun lalu tetapi terpaksa menunda pencatatan saham akibat lesunya permintaan di tengah pasar komoditas yang kurang mendukung.

Editor Adam Rizky Nugroho | Sumber Bareksa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *